[Ini saya, bukan siapa-siapa]
[Selalu sama seperti biasanya]
[Cyinical, Skeptic, Indifferent, Selfish, Individualist]
[Trying hard to be a photo journalist]
[Pop dieharder]
[Deeply Love Her...]

[Yes! I am a long way from 'home']

   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31





rss feed



Friday, April 13, 2007
Feeling Bad, Lately..

Seperti hari ini dan kemarin. Seperti matahari yang selalu menyilaukan di pagi hari dan membuat gerah di sore hari. Seperti terbangun dari tidur dengan keinginan untuk segera terlelap kembali. Seperti air dingin yang mengigit pori-pori. Seperti nikotin sebagai sahabat sejati. Seperti menenggak segelas kopi manis yang membuat lambung meronta. Seperti mengenakan jaket yang berminggu-minggu tidak tersentuh detergen. Seperti walkman-phone yang low-bat. Seperti earphone yang tidak pernah absen menyumbat kedua telingaku. Seperti perjalanan menuju kampus yang membosankan. Seperti mengendarai motor seenaknya. Seperti kewajiban menyalakan lampu motor di siang hari. Seperti memakai helm yang telah lusuh diterpa debu jalanan. Seperti jalan By-Pass yang bergelombang. Seperti city-car yang berseliweran diantara truk besar. Seperti tempat parkir di belakang kampus yang sesak. Seperti hawa dingin kaki gunung Manglayang. Seperti ruang kelas yang suram. Seperti dosen yang tidak bosan berbicara. Seperti gambar proyektor yang tidak fokus. Seperti teman-temanku yang tidak pernah terlihat berbeda. Seperti di depan gedung dua tempat kita biasa ngobrol. Seperti ruang biru HMJ sebagai tempat persembunyianku. Seperti para pasangan yang mengumbar kemesraan di tempat umum. Seperti orang-orang yang wajahnya memuakan. Seperti anak laki-laki kemayu yang bangga dengan kebanciannya. Seperti mahasiswi bermake-up tebal yang bergaya bak simpanan om-om. Seperti musuh-musuh pengganggu pikiranku. Seperti kotor dan menjijikannya kantin di kampus. Seperti WC dengan semua jenis bebauannya. Seperti instalasi tak beresensi di tengah-tengah plasa. Seperti pamflet-pamflet di tembok kampus yang saling bertumpukan. Seperti sakit dan lelah karena ospek jurusan. Seperti kilatan blitz di atas kepalaku. Seperti LCD kamera digitalku yang buram. Seperti gerbang kampus yang jarang dijaga satpam. Seperti portal rusak yang teronggok begitu saja di pinggir jalan. Seperti terminal bis yang kumuh dan penuh asap. Seperti kemacetan di jalanan Jatinangor ke arah Bandung. Seperti mal-mal yang selalu ramai dikunjungi warga kota. Seperti lampu stopan yang tidak menyala sempurna. Seperti perempatan jalan yang semrawut. Seperti angkot yang tidak tahu aturan. Seperti asap knalpot yang menyesakkan. Seperti suara klakson yang menusuk telinga. Seperti bioskop regent yang menua dan mulai terlupakan. Seperti tiket bioskop yang selalu kita simpan. Seperti film horror lokal yang murahan. Seperti poster bergambar manusia-manusia setengah berpakaian. Seperti AC-Split di teater 3. Seperti bangku yang berderit. Seperti basement yang sumpek. Seperti karcis parkir yang riwayatnya berakhir di saku celana. Seperti gaya anak muda masa kini. Seperti pin bulat yang dianggap gaya. Seperti potongan rambut yang seragam. Seperti pakaian produksi clothing lokal yang makin norak. Seperti musik indie yang sudah tidak keren lagi. Seperti orang-orang yang ingin dianggap seniman kontemporer. Seperti pepohonan di sekitar gedung sate yang meranggas. Seperti fly-over Pasupati yang digerogoti vandalisme. Seperti melihat city-light dari perbukitan dago. Seperti melahap fast food di restoran waralaba. Seperti jalan Cipaganti yang selalu teduh. Seperti hotel tua yang menyeramkan dan selalu sepi. Seperti polisi tidur di jalanan. Seperti rumah susun yang berderet dengan jemuran pakaian dalam di tiap sudutnya. Seperti gang kecil di depan rumahmu. Seperti teras rumahmu yang asri tempat motorku biasa diparkirkan. Seperti cat rumahmu yang kuning pucat. Seperti pintu kayu rumahmu. Seperti sofa coklat di belakang pintu tempatku biasa duduk dan menikmati wajahmu. Seperti segelas air dingin yang selalu kau sajikan. Seperti TV kabel yang baru terpasang di TV rumahmu. Seperti HBO yang tak kenal lelah. Seperti National-Geographic yang tidak pernah kita saksikan. Seperti MTV yang selalu kita lewati. Seperti DVD bajakan yang mengecewakan semua orang. Seperti lemari hitam di ruang tamu rumahmu dengan foto-foto yang menggambarkan perjalana hidup keluargamu. Seperti koran lama yang tidak pernah berpindah tempat. Seperti meja makan besar kosong. Seperti suaramu ketika tertawa. Seperti jarimu yang tak henti memainkan HP. Seperti pulang dari rumahmu pukul 9 malam. Seperti pesan singkat yang setiap saat kukirimkan. Seperti keinginan untuk segera tiba di rumah. Seperti mencuci muka dengan sabun anti jerawat yang malah memperparah keadaan. Seperti duduk menghadap komputer. Seperti mouse yang tidak pernah lepas dari genggaman. Seperti windows-explorer yang tidak pernah tidak ku buka. Seperti lagu yang melulu ku dengarkan. Seperti winamp dengan lambang petirnya. Seperti film porno di dalam recycle-bin. Seperti Ctrl + Alt + Del. Seperti foto-fotomu. Seperti Photoshop yang membuat komputerku bekerja keras. Seperti Coreldraw yang sudah jarang kusentuh. Seperti MS-Word yang membantuku mengerjakan tugas. Seperti tumpukan CD di atas CPU. Seperti buku-buku yang belum selesai di baca. Seperti segelas air dingin di depan monitor. Seperti korek api yang kadang menghilang entah kemana. Seperti asbak yang sudah overload. Seperti tempat tidurku yang tidak pernah rapih. Seperti hanya tidur selama 4 jam. Seperti terbangun keesokan harinya dan menjalani hari yang sama seperti kemarinnya. Hidup itu memang indah!


Posted at 09:55 am by praga
Make a comment  

Traffic Reporting

 

Gunakan Otak Saat Mengemudi, Bukan Otot!

(traffic reporting part 1)



Senin 26 Februari 2007 pukul 18 lebih.

Di tengah-tengah udara dingin sore hari itu, persimpangan Lodaya – Pelajar Pejuang macet. Puluhan mobil dan motor mengantri menuggu giliran lampu hijau. Ketika saya sedang memacu motor dengan tenang sambil menikmati suasana jalan, ada peristiwa yang sangat luar biasa tolol dan itu terjadi di depan mata saya secara langsung! Dua buah mobil (Karimun warna silver, dan Panther warna hitam) yang berlawanan arah berhenti di tengah-tengah jalan yang padat. Pengemudi kedua mobil itu turun. Sesaat saya tidak menangkap maksud dari dua pengemudi bodoh itu menghentikan kendaraannya di tengah jalan. Tapi tiba-tiba terjadi adu mulut di antara mereka, Sedetik kemudian pengemudi Karimun, seorang anak muda sebaya saya, botak, bergaya anak muda masa kini, mendorong tubuh si pengemudi Panther hitam. Pengemudi Panther itu seorang bapak, kira-kira berusia 40 tahun-an. berperawakan tinggi besar, memakai jaket kulit.

Mungkin si pengemudi Panther tidak terima diperlakukan seperti itu, Ia pun balas mendorong. Si anak muda menonjok muka si bapak tersebut. Selanjutnya, dapat ditebak, terjadilah perkelahian sengit. Persis seperti adegan perkelahian dalam film-film. Sejurus kemudian dari dalam mobil Karimun keluar seorang perempuan muda (tampaknya pacar si pemuda botak) sambil histeris dan berteriak-teriak: “Udah…udah…Pak, jangan…Toloong!!!” Persitiwa perkelahian itu menarik perhatian warga sekitar yang segera berkerumun di pinggir jalan. Seorang tukang parkir berseragam oranye dan seorang satpam berusaha melerai perkelahian dua orang tak berotak itu.

Kelanjutan dari peristiwa itu saya tidak tahu. Karena saya tidak berminat menyaksikan adu jotos ‘monyet-monyet’ jalanan itu. Saya memilih meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Lagipula apa manfaatnya? Setelah melihat peristiwa itu, dalam perjalanan saya menebak-nebak, apa yang mengakibatkan dua orang itu ‘rela’ saling pukul dan menjadi tontonan di tengah-tengah jalanan yang macet. Menurut analisa saya, melihat posisi kedua mobil (Karimun dari arah Pelajar Pejuang, dan Panther dari arah Burangrang) sepertinya si pengemudi Karimun kesal karena jalannya terhalang mobil Panther yang dengan seenaknya menerobos jalur berlawanan. Padahal saat itu jalan sedang macet karena lampu merah menyala terlalu lama.

Mengapa saya menyebut dua pengemudi itu dengan sebutan bodoh, tolol, monyet, dll? Ini alasan saya. Pertama: Mereka seenaknya saja menghentikan kendaraan di tengah-tengah jalanan yang padat hanya demi melampiaskan emosinya. Itu berarti kepentingan masyarakat banyak (pengguna jalan lain, termasuk saya, yang juga ingin cepat sampai ke tujuan) jadi terganggu. Ke dua: Saya melihat kedua pengemudi itu sama-sama bodohnya. Pengemudi Panther seenaknya saja menerobos jalur lain, sepertinya ia tidak kenal ‘budaya antri’. Begitu juga pengemudi Karimun yang terprovokasi oleh ulah pengemudi Panther. Mungkin ia merasa hak-nya sebagai pengguna jalan terampas. Tapi ia pun tolol, karena menghentikan kendaraannya di tengah-tengah jalan. Dengan begitu ia mengusik hak pengguna jalan lainnya.

Ah, peduli setan dengan perkelahian dua orang yang saya ceritakan di atas tadi. Yang pasti saya semakin muak dengan kondisi lalu-lintas di kota ini! Sebut saja penyebab kemuakan saya itu: Mulai dari Jalanan yang berlubang dan bergelombang. Rambu lalu-lintas yang membingungkan. Penerangan jalan yang minim. Kemacetan yang telah jadi rutinitas. Pengguna jalan hanya sadar hak-nya, tidak diikuti kesadaran akan kewajibannya. Sampai keributan-keributan tak penting seperti cerita saya di awal tadi. Jalan raya sekarang sudah tidak aman bagi penggunanya! Jalanan telah berubah menjadi medan perang antarwarga kota yang dilatari oleh polusi dan kesemrawutan. Kendaraan jadi mesin pembunuh yang celaka. Mau apa lagi kita?

 

People’s Rights on the Road

(traffic reporting part 2)

Saya, orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di jalanan. Maksudnya, hampir setiap hari saya keluar rumah, entah ke kampus, ke rumah teman, ke rumah ‘teman’, dll. Saya memerhatikan, kondisi jalan raya (yang notabene milik bersama) di hampir seluruh sudut kota Bandung sangat memprihatinkan. Jika bukan jalan yang rusak, pasti ada kemacetan. Di sini bisa kita lihat, pemerintah mengabaikan hak semua pengguna jalan untuk ‘mendapatkan’ jalan yang mulus. Atau juga hak para pedestrian yang jadi tidak nyaman jalan kaki di trotoar karena hanya sedikit trotoar yang ‘layak dilewati’ pejalan kaki.

Berbicara mengenai hak orang/masyarakat di jalan raya, mari kita mulai dari hak bagi pedestrian. Kenyamanan para pejalan kaki di atas trotoar selalu terusik oleh kios-kios pedagang kaki lima (PKL) yang seenaknya saja membuat ‘kaveling-kaveling’ untuk berdagang di atas trotoar (“Hei, bukankah Perda K3 sudah diberlakukan di kota ini?”). Sehingga pejalan kaki mau tak mau harus berjalan di badan jalan raya. Resiko terserempet kendaraan pun membesar. Gangguan juga datang dari para pengguna sepeda motor yang seenaknya saja menaikan motornya ke atas trotoar untuk menghindari kemacetan. Itu pemandangan yang lumrah jika terjadi kemacetan.

Ada cerita aneh dari seorang teman. Dia sedang enak-enaknya jalan kaki di atas trotoar, jalan raya saat itu sedang macet. Tiba-tiba dari arah belakang dia, sebuah motor membunyikan klakson dengan sangat keras. Ternyata klakson itu ‘ditujukan’ untuk teman saya yang sedang berjalan kaki di atas trotoar dan menghalangi pengendara motor yang menaikan motornya ke atas trotoar agar tidak terjebak macet. Teman saya geram diperlakukan seperti itu. Tapi teman saya sengaja terus berjalan dengan cuek dan tidak memberikan jalan bagi motor itu untuk lewat. Eh ternyata si pengendara motor naik pitam, dia mengumpat dengan kata-kata kasar dan mengajak teman saya untuk berduel! Untung teman saya masih berakal sehat, dia memilih diam daripada meng-iya-kan ajakan berduel si pengendara motor dungu itu. Peristiwa itu terjadi di Jakarta, tapi tampaknya di Bandung juga kejadian yang dialami teman saya itu merupakan hal yang sudah biasa. Beberapa kali saya lihat pejalan kaki dipaksa mengalah di atas trotoar yang seharunya jadi tempat mereka berjalan kaki dengan nyaman.

Dari ilustrasi tadi bisa kita lihat bahwa saat ini pengendara motor sudah banyak yang bodoh. Merasa benar atas kelakuannya di jalan raya, padahal yang ia lakukan itu sebuah ‘kejahatan’. Kaum pedestrian, yang seharusnya paling dilindungi oleh undang-undang perlalulintasan, malah kerap jadi korban dari ulah para pengguna jalan yang lebih ‘kuat’ (pengendara motor dan pengemudi mobil). Belum lagi gangguan preman-preman gang yang siap memalak. Menyedihkan bukan?

Ada lagi kenyataan yang tidak kalah menyedihkan, dan masih berkaitan dengan para pejalan kaki. Ayo kita menengok sejenak ke tiap lampu merah yang ada di Bandung. Lalu coba hitung, berapa banyak pengguna jalan (pengendara motor dan pengemudi mobil) yang menghentikan kendaraannya –ketika lampu merah menyala— di atas zebra cross, bukan di belakang garis putih yang merupakan batas henti setiap kendaraan. Hal itu bisa disebabkan karena: Dengan semakin bertambahnya jumlah kendaraan di jalan raya, kapasitas stopan/lampu merah untuk menampung setiap kendaraan yang berhenti jadi berkurang. Akibatnya jika bukan antrian panjang, ya itu tadi, luberan kendaraan yang sampai menutupi zebra cross, bahkan sampai batas terluar sebuah traffic light. Atau dapat juga disebabkan karena telah hilangnya budaya antri di tengah-tengah para pemakai jalan raya. Bisa kita lihat, hal itu –lagi-lagi— membuat pejalan kaki kehilangan haknya untuk menyebrang dengan aman di atas zebra cross.

Saat ini –akibat semakin mudahnya orang untuk membeli sepeda motor/mobil— populasi kendaraan bermotor bertambah banyak. Siapapun tahu untuk boleh mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya, seseorang harus punya Surat Izin Mengemudi (SIM). Dengan jumlah motor/mobil yang terus meningkat, demand terhadap SIM otomatis meningkat pula. Pihak kepolisian –sebagai pihak yang menerbitkan SIM— sepertinya melihat kesempatan ini sebagai kesempatan emas untuk mendulang uang. Proses seleksi untuk mendapatkan SIM dipermudah dan dipercepat (tergantung bayaran pemohon). Itu memang cerita lama. Padahal seharusnya SIM diberikan kepada mereka yang benar-benar layak mendapatkannya. Yaitu orang-orang yang memiliki mental ‘patuh’ terhadap peraturan jalan raya dan tentu saja memahami segala peraturan untuk ditaati. Tujuannya tentu, agar jalan raya digunakan secara baik dan benar sesuai fungsi dan peruntukannya oleh para pengendara motor/mobil. Hakikat SIM itu sendiri, menurut saya, adalah penentu kelayakan orang untuk menjadi seorang pengemudi kendaraan bermotor, bukan sebagai senjata yang meringankan hukuman tilang jika kita melanggar!

Jujur saja, saya juga sebetulnya salah seorang konsumen yang memanfaatkan jalan pintas untuk mendapatkan SIM dengan mudah dan cepat. SIM C dan SIM A yang kini terselip di dompet saya, diperoleh tanpa ikut tes yang terkenal sulit itu. Tapi bukannya mau sombong, saya adalah orang yang selalu berusaha sebisa mungkin tidak melanggar peraturan lalu-lintas setiap saya berkendara di jalan raya. Bukan karena tidak mau kena tilang, tapi lebih kepada kesadaran akan keselamatan diri saya sendiri dan orang lain. Saya berpikiran, peraturan lalu-lintas –meskipun kadang terasa memberatkan— diciptakan untuk melindungi para pengguna jalan. Pepatah “biar lambat asal selamat” (meskipun tampak kuno) juga selalu saya pegang teguh. Alasannya masih sama seperti yang tadi. Dalam hal-hal tertentu, saya memang seorang yang konservatif.

Akhirnya saya mau bertanya pada Anda: sudahkah Anda peduli terhadap keselamatan diri Anda sendiri? sukur-sukur kalau Anda juga peduli dengan keselamatan orang lain di jalan raya. Anda tidak mau kan nama Anda tercatat dalam manifes data korban kecelakaan lalulintas yang tiap tahun angkanya makin meningkat? bukan begitu bukan?



 


Posted at 09:49 am by praga
Make a comment  

Wednesday, January 24, 2007
arrrghh..

Yah, yah.. here comes again,
the Glittering Blackness
(ouch, that hurts!)

Yah, yah.. saya tau. Kemarin semua sudah berjalan di jalur yang benar. Tapi hari ini saya merusak semua yang sudah menjadi benar kembali itu.  Ketika kau mencahayaiku, aku justru menaungimu dengan awan hujan.

Yah, yah.. ini semua kesalahan saya. Tuhan membenci orang bodoh. Lalu, apa saya dibenci Tuhan karena ketidaktahuanku? Dan Kau akan seperti Tuhan, ikut membenciku karena ketololan yang sudah menjadi nama tengahku? Adilkah jika benci itu hadir karena ketidakberdayaan?

Yah, yah.. Saya akui saya bodoh, dan kebodohan itu bak awan hujan yang tiba-tiba hadir tanpa petir ketika kau menyelimutiku dengan cahaya lembut itu....dan selalu saja seperti itu. sebuah repetisi yang melelahkan untukmu. Saya memang bodoh, dan pantas dibenci.

Yah, yah.. maaf tidak akan ada artinya, kalau tidak ada perubahan mengiringinya. Apa yang kuucapkan tidak hanya kata, tapi ada makna didalamnya. Termaknaikah olehmu? Maaf yang kuminta berbarengan dengan janji untuk perubahan. Tapi mereka tidak datang beriringan. Salah satu dari mereka selalu saja datang terlambat. Maukah kau menunggunya?

Sebut saja semua ini bintang hitam yang hadir ketika matahari, langit biru, dan awan putih menghiasi hari-harimu. Mereka, bintang-bintang itu, hadir untuk merusak keindahan angkasamu, bukan memberikan nuansa lain.

Tidak tahu lagi berkata apa.

Terimakasih kamu selalu memaafkan, memaklumi, dan menahan semua kekesalan itu. Ah.. entah, saya hanya tidak mau membiarkan semua itu menumpuk di setiap sel yang kau miliki di tubuhmu. Silakan menumpahkan semua itu, asal kamu lega, dan kembali ke bentuk terbaik mu.

Tidak tahu lagi berkata apa. Tidak tahu lagi harus seperti apa?

Maaf, maaf, maaf!

 

untuk dia yang hatinya menangis malam tadi
-aku, orang yang mudah2an masih kaubanggakan-

 


Posted at 10:17 am by praga
Make a comment  

..song that makes u cry..

Take Me Somewhere Nice..

-briliant artwork by Mogwai-

Ghosts in the photograph
never lied to me.

I'd be all of that
I'd be all of that.

A false memory
would be everything.
A denial my eliminent.

What was that for?
What was that for?

What would you do
if you saw spaceships
over Glasgow?
Would you fear them?

Every aircraft,
every camera,
is a wish that
wasn't granted.

What was that for?
What was that for?

Try to be bad.
Try to be bad.

 

So.. Honey, would you take me somewhere nice? Can't hardly wait for the next journey with you....

Today, tonight.. Me, Missing you in bad weather! uh.. 



Posted at 09:47 am by praga
Make a comment  

Sunday, January 21, 2007
Godfather of Music is Back!

kabar gembira buat kalian semua.... para suedeheads, dan semua the tears dieharder,..

 

frontman suede (r.i.p) dan the tears, dua band terbaik sepanjang masa (yang pernah saya kenal), yaitu Brett Anderson, 26 Maret 2007 ini akan merilis album solonya! cek scorpio rising, -single si maestro satu ini di www.myspace.com/brettandersonofficial 

brilian, jenius, superb!!!!

mudah-mudahan album solo yang bertitel drowned dirilis di Indonesia. Amin! jika bukan oleh major-label (yang sudah tidak punya cita rasa musik), semoga label-label indie mau jadi menyalurkan drowned (seperti aksara rec. yang merilis album thom yorke di Indonesia). Di-An-Tos tah!!!!!

oh, Maret ini tampaknya akan banyak sekali kegembiraan! :)

 


Posted at 07:19 am by praga
Make a comment  

Saturday, December 23, 2006
playlist

 Apa yang saya dengarkan kali ini :


  • Explotion in the Sky (Unknown Album)

  • Mogwai (Young Team)*

  • Mum (Finally, We're no one)

  • Pelican (Australasia & The Fire in our Throats..)*

  • Isis (Panopticon)

  • Tortoise (Millions now…, Standards, & Unknown Album)


Komposisi playlist saya sekarang sedikit beda. Isinya sangat baik dalam menjaga mood untuk tetap di bawah. Meski begitu komposisi ini juga dapat membangkitkan semangat untuk menyendiri. Pas sekali bukan? Sip! Kombinasi antara mood yang turun dan kesendirian sangat menggairahkan! Saya menikmati betul tenggelam dalam kondisi suram seperti itu.

Anda harus coba komposisi di atas kalau mau tau seperti apa musik itu seharusnya. Band-band dalam playlist di atas tahu betul cara membuat sebuah karya seni klasik. Untuk mendengarkan track-track dalam playlist tersebut ada baiknya pasang volume stereo system anda ke skala yang paling tinggi, playlist ini lebih cocok didengarkan di atas pukul 22.00. Untuk pemahaman dalam menedengar, jangan hanya menggunakan telinga telanjang, tapi resapi setiap nada ke dalam hati dan otakmu!

Efek sampingnya cuma satu, Anda jadi tidak peduli dengan orang-orang di sekitar Anda.

Pesan saya : kalau tidak kuat, dengarkan musik yang lebih masuk akal dan lebih manusiawi saja.


*highly recomended


***


Posted at 10:14 am by praga
Make a comment  

friend or foe?

Ini Untuk Saya dan Mereka Saja

Apa ini yang saya mau? Jadi bermanfaat bagi orang banyak, tapi malah jadi riweuh sendiri. Orang bilang saya terlalu baik karena mau membantu mereka, tapi apakah saya baik juga sama diri saya sendiri? Sibuk membantu orang, tapi kewajiban sendiri diabaikan. Ketika saya berkutat dengan semua kewajiban saya sendiri, mereka menyebut saya egois. Tapi giliran saya mengobral kebaikan malah dimanfaatkan.

Lalu setelah semua itu terkuras, saya dilupakan. Pamrihkah saya jika menolong dengan maksud hanya agar saya diingat sebagai teman mereka? Tidak, saya tidak mau dikasihani. Saya hanya minta sejengkal ruang dalam ingatan mereka. Saya hanya ingin disebut: “Iya, kamu teman saya!”

Saya mungkin tidak terampil bersikap asertif, sehingga mereka memperlakukan saya sesuka hati mereka tanpa mempedulikan apa yang sedang saya rasakan. Apakah mereka tidak menangkap apa yang saya maksud? Saya hanya ingin diperlakukan seperti saya memperlakukan mereka! Tidak lebih dari itu.


Adakah di antara mereka yang pantas saya sebut sahabat? Teman memang banyak. Buat saya, ada strata tertentu bagi orang-orang di sekitar saya. Strata itu berbentuk piramida dan terbagi empat tingkatan. Penghuni lantai dasar, yang populasinya terbanyak, tentu saja orang-orang yang hanya lewat. Sekedar tau nama dan menghafal wajah. Sebagai ilustrasi, jika saya dan mereka berpapasan, tidak menyapa pun tidak mengapa.

Tingkat berikutnya dihuni teman-teman saya. Teman dalam artian, orang-orang yang sering bertemu tapi jarang berinteraksi. Dengan mereka, cukuplah bilang “hai” atau melambaikan tangan jika bertemu. Populasinya banyak juga, tapi lebih sedikit daripada para manusia sombong penghuni basement.

Kemudian, sahabat. Orang-orang yang saya ‘pilih’ jadi sahabat adalah mereka yang sangat mengenal saya, begitupun sebaliknya. Dengan mereka saya rela mengehentikan langkah dan menunda kesibukan demi mengobrol selama 5 menit, sekedar menanyakan kabar, atau tertawa bersama. Tidak jarang separuh waktu dalam sehari saya habiskan bersama mereka. Mereka menamani saya berimajinasi, mengajak saya bermimpi bersama, dan kadang merenung bersama. Jumlah mereka sedikit sekali, tidak melebihi jumlah jari kaki ditambah jari tangan.

Tingkat teratas hanya dihuni satu orang. Tidak ada sebutan khusus buat dia. Tapi tempatnya sangat spesial. Dia benar-benar orang yang terpilih. Bahkan saya beranggapan tidak akan ada yang bisa menyamai dia. Dia adalah dia….yang kenal saya, pasti tau dia.

Dari ke-empat tingkatan itu, hanya penghuni 2 tingkat teratas saja yang tau bagaimana cara memperlakukan saya. Sehingga saya pun nyaman berada di antara mereka. Jangan heran jika suatu saat kalian sedang bersama saya, dan saya menunjukan sikap yang tidak bersahabat kepada kalian. Itu tandanya saya tidak nyaman berada di dekat kalian. Artinya, kalian bukan sahabat atau bahkan teman saya. Maaf, saya memang pilih-pilih.

Jangan sungkan menyebut saya sombong, karena pada kenyataannya saya juga diam-diam kerap mencap kalian sombong. Jangan heran juga, kalau minggu ini saya bersenang-senang dengan kalian, tapi di minggu berikutnya saya jadi males menyapa kalian. Artinya kalian sudah turun peringkat dalam strata piramida yang tadi saya jelaskan.


Kenapa? Kalian berpikir saya arogan karena ‘milih-milih’ bahkan sampai membuat tingkatan-tingkatan seperti itu? Silakan saja kalian berpikir begitu. Ini hak saya untuk menetukan siapa saja orang yang ‘pantas’ berteman dan bersahabat dengan saya. Toh saya juga sering ngerasa dianggap teman kalian hanya saat saya bermanfaat bagi kalian. Jarang sekali ada di antara kalian yang mau menganggap saya teman di berbagai situasi.

Tapi maaf, jangan berpikir saya berniat menimbulkan konflik dengan kalian. Sekarang saya hanya sedang merasa sperti ini, mungkin saja besok saya sudah biasa dan bisa ‘berteman’ lagi dengan kalian.



Tetap Praga, (Desember 06)

-It’s a loneliness for sale-



Posted at 10:11 am by praga
Make a comment  

Dekade ke dua saya di dunia


Makna Berusia 20 Tahun

Bagi Seseorang yang Belum Dapat

Sepenuhnya Menikmati hidup



Seminggu yang lalu genap sudah 20 tahun kehadiran saya di dunia. Entah belum terlihat atau terasa, tapi berusia 20 tahun bagi saya tidak berbeda dengan ketika saya masih berusia di bawah itu. Tidak ada perbedaan signifikan yang membedakan ketika saya berusia 18 tahun, 19 tahun, dan sekarang 20 tahun. Semua masih seperti biasa. Itu jika dilihat dari penilaian orang terhadap saya. "Kamu tidak berubah," ujar mereka.

Terimakasih buat semua orang di sekitar saya yang 14 Desember kemarin menyalami saya, mengucapkan selamat, mendoakan (?), minta traktiran (untuk yang satu ini saya lebih baik memilih dulu siapa saja yang akan saya traktir, tidak mungkin kan saya mentraktir orang yang 'tidak saya kenal?' meskipun kemarin mereka menyalami saya!), dan juga bagi orang-orang yang kemarin merelakan waktunya untuk sejenak membahagiakan saya. Terimakasih banyak!


Welcome in 20…!

Beberapa orang mengucapkan selamat datang di usia 20 kepada saya. Lalu apa artinya? Saya bertanya dalam hati. Apa bedanya berusia 20 tahun dengan usia lainnya? Apakah benar, dengan perubahan usia, akan terjadi perubahan juga dalam diri seseorang? Mereka menyebut dengan bertambahnya usia, kedewasaan pun akan meningkat. Ah, masa iya? Memang makna dari kata dewasa itu sendiri apa?

Dewasa/kedewasaan, ya itu dia yang sering disoroti banyak orang-orang kepada saya. Mereka acap menyebut saya belum dewasa (terutama ketika saya bermasalah dalam pengendalian emosi). Jika begitu, dewasa berarti terbatas dalam hal itu saja? Dewasa adalah mampu mengendalikan dan menempatkan emosi sesuai keadaan. Saya rasa tidak di situ batasan kata 'dewasa.'

Bagaimana dengan pola pikir? Apakah pola pikir dapat digunakan mengukur kedewasaan seseorang? Saya akan menjawab tidak jika ditanya begitu. Apa sebab? Mari, saya paparkan sebuah ilustrasi: Ada beberapa sahabat yang usianya berbeda beberapa tahun di atas saya. Di satu saat (ketika saya terlibat dalam diskusi, bertukar pikiran, membuat pemaknaan akan suatu hal bersama mereka), ya mereka menunjukan pola pikir yang bijak dan matang. Tapi terjadi kontradiksi jika melihat keseharian mereka dalam berperilaku. Sikap dan perilaku mereka yang kasat mata tidak mencerminkan penilaian saya terhadap pola pikir mereka itu tadi.

Itulah alasan saya mengapa pola pikir tidak apat menunjukan kedewasaan seseorang. Jika demikian, terbentuk anggapan bahwa dewasa itu sebuah fase di mana seseorang mencapai 'bentuk' terbaiknya. Saya rasa bolehlah disebut begitu, cukup mendekati! Saya akan menyebut seseorang telah menjadi dewasa jika dia menampilkan keutuhan sikap dan pola pikir yang saling berkaitan, bukannya bertolak belakang.

Tapi itu hanya anggapan saya, karena bagi sebagian orang dewasa itu dapat dilihat batas-batasnya. Saya sendiri cenderung melihat kedewasaan itu abstrak dan tidak terukur. Makna dewasa kemudian menjadi sangat kontemplatif dan personal (itu hanya utnuk saya loh!). Kalau kata mereka, dewasa adalah relatif. (Sadar atau tidak, penggunaan kata relatif bukanlah jalan keluar, itu hanya jalan pintas dalam menyelesaikan perdebatan yang tidak kunjung terlihat titik temunya! Itu hanya akan membuat anda malas berpikir! Renungkanlah kawan..!)


Bagaimana dengan saya? Apa saya pantas disebut sudah dewasa?

Jika melihat penilaian orang di sekitar saya tadi, berarti saya belum pantas. Memang jika berkaca, saya sama saja sperti teman-teman saya tadi. Di satu saat saya mampu berpikir bijak, namun ada kalanya saya bersikap kekanak-kanakan. Apa pula itu sikap kekanak-kanakan? Entahlah, itu penilaian mereka terhadap saya. Saya sendiri tidak/belum bisa memaknainya. Tapi yang lucunya, mereka menyebut saya childish hanya jika saya 'melakukan hal-hal' yang dapat mengancam eksistensi kedewasaan mereka. Kalau saya membuat mereka senang, lain lagi ceritanya. Maksudnya? Tidak jelas, tapi itu yang selalu mereka katakan kepada saya.


Sekarang berbicara mengenai perubahan.

Dengan merenung dan berpikir saya jadi mengenal diri saya sendiri. Apa yang sebelumnya tidak saya sadari sedikit demi sedikit mulai terasa dan terlihat. Hal baik dan jelek tentang saya, yang biasanya saya ketahui dari orang lain, sekarang mulai bisa saya iya-kan. Maksudnya, dulu saya selalu menyangkal ketika orang lain bilang saya itu orangnya 'begini' atau 'begitu'. Apalagi kalau yang mereka bilang kepada saya itu tentang yang jelek-jeleknya.

Semakin sering 'bercermin', saya jadi lebih tau lagi siapa saya. Ini yang lumayan kerasa ketika saya menjelang usia 20. Saya jadi lebih sering 'bercermin'! Dari situ saya jadi paham di mana kekurangan dan kelebihan sendiri. Makanya sekarang saya punya keinginan untuk berubah, terutama merubah kekurangan-kekurangan yang saya punya. Tapi 'merubah' di sini bukan berarti secara langsung dan sketika, ya bertahap lah! Waktunya juga tidak akan cepat. Apal mereun kumaha hese'-na ereun ngudud!? Jika dianalogikan, seperti itulah!

Kalau dibuat daftarnya apa saja yang mau saya rubah dari diri saya, wah terlalu banyak! Dan akan sangat sulit sekali membuat skala prioritasnya. Soalnya variabel-variabelnya saling berkaitan dan sulit ditentukan titik awalnya. Istilahnya mah: lingkaran setan! Konkritnya gini lah (yang simple aja), masalah utama: kemalasan, akibatnya sering telat kuliah, berimbas pada konsentrasi ketika kuliah yang berbanding lurus dengan kemerosotan vitalitas mengerjakan tugas secara drastis, kemudian memengaruhi nilai, lalu nilai jadi jelek, efeknya stress berkepanjangan, hal itu menimbulkan keinginan untuk bersenang-senang dengan tujuan melepas penat, tapi bersenang-senangnya terlalu over, hasilnya: males ngapa2-in!

Jadi saya harus gimana? Ya gimana saya itu mah. Yang jadi pertanyaan sekarang, sekuat apa keinginan saya buat berubah? Kapan mau memulai perubahan2 itu? Saya sendiri belum bisa memastikan jawabannya. Jujur saya terlalu terlena keadaan sekitar yang sangat nyantei (padahal tidak, keadaan itu dibuat kami-kami yang memang pemalas!). Tapi keinginan buat berubah masih dan mudah-mudahan semakin kuat.


Harapan lain?

Selain sedikit-demi-sedikit merubah kebiasaan-kebiasaan jelak, saya punya harapan lain. Yaitu lebih bisa menikmati hidup. Menikmati hidup bukan cuma berarti hidup enak, selalu bersenang-senang, dan bahagia setiap saat. Esensi 'menikmati hidup' buat saya adalah, bagaimana menjalankan hidup yang apa-adanya, bukan artifisial, tanpa paksaan dari luar, dan ketika menemukan masalah, saya bisa menghadapinya tanpa membohongi prinsip yang saya punya.

Di luar itu, saya tidak mau ada penurunan kualitas dalam berbagai hal, juga berusaha untuk tidak mengulang kebodohan-kebodohan yang sama. Intinya: Usia 20 ingin saya jadikan titik awal untuk berubah. Saya cuma mau hidup yang saya jalani nantinya lebih bermakna dan berkualitas. Karena saya tidak ingin ketika sudah berusia lanjut, saya menyesal kehilangan banyak kesempatan yang hanya datang di usia muda.


Wise-word dari saya: Nikmatilah hidup layaknya kamu menikmati ritual ngopi bareng teman-teman kamu.


Praga (22/12/06)

saat Bandung dibasuh hujan

Diiringi Cliff Dweller Society by: Tortoise



Posted at 10:04 am by praga
Make a comment  

Wednesday, November 15, 2006
Ini Realitas Bung!

SAYA, LELAH DENGAN SEMUA RUTINITAS, KECUALI YANG SATU ITU...

Hehe... anjiaaa**gg!! bosan beul!

Setiap hari, selalu saja seperti itu.. arah yang sama, tujuan yang pasti itu-itu juga...

ruang kuliah yang hampa, tanpa keceriaan, tanpa ilmu yang menerap, hanya pandangan mata yang kosong...

terdampar di ruang biru dihimpit koin2 plastik karambol yang saling beradu, dilatari tawa khas para serdadu biru yang muram...

hari-hari dilewati di depan komputer, perjalanan Buah-Batu - Jatinangor - Sarijadi - Buah-Batu, kembali duduk di depan monitor 17 inch, dengan keyboard di pangkuan... 

mata melihat dia, telinga mendengar musik bertempo lambat, hidung membaui asap bus kota, kulit terbakar matahari, perut penuh dengan makanan cepat saji, otak dijejali tugas2 kuliah, dan hati disesaki penggambaran dirinya..

bersuka ria dengannya, tertawa bersama dia, di rumahnya.. berdiam sendiri, melamun tanpa teman, di rumah sendiri..

mengapa hidup ini begitu monoton?

kapan saya bisa mendapatkan dua kesenangan sekaligus?

pilih dia atau mereka?

dengan dia saya terbang, tapi dengan mereka saya tercerahkan...

dia selalu ada kapan saja, mereka hanya ada di saat2 tertentu..

dia menemani saya menghadapi realita, mereka menemani saya berimajinasi..

ah, dia dan mereka adalah pengisi hidup saya.. dia dan mereka bukan untuk dipilih.. dia dan mereka akan selalu ada buat saya.. benarkah? siapa yang bisa menjawab.....? mudah2an saja jawabannya: "betul sekali bung!"

suatu saat saya begitu cinta kehidupan ini, tapi di lain waktu saya sangat membencinya, kapan dong bisa menikmati ini semua?

hei kamu, temani saya terus ya? kalian juga selalu ada kan?

jangan kuatir, saya akan membalas apa yang telah kalian berikan.. tunggu saja!

YEA.. HIDUP INI FLUKTUATIF SANGAT!

 

~praga

-ketika hidup gitu2 aja-


Posted at 06:44 am by praga
Comment (1)  

Wednesday, August 30, 2006
saya bangga bisa menangis lagi!

      yah, memang kenapa jika seorang anak laki2 yang beberapa bulan lagi berusia 20 tahun, menagis tersedu-sedu? apakah orang2 mempunyai masalah dengan hal itu? seorang anak laki2 berusia hampir 20 tahun, menangis... saya bangga bisa menangis lagi, setelah sekian lama tidak menangis...

      bukan penyebab saya menangis yang saya banggakan, saya bangga menangis karena menunjukan bahwa saya (masih) memiliki emosi dan sensitivitas. menangis buat saya adalah cara lain untuk berekspresi. tapi sayang sekali, kali ini saya menangis bukan karena terharu. tapi saya menangis karena sedih, mendapati kenyataan bahwa saya akan kehilangan hal yang paling berarti buat kehidupan saya. kehilangan memang sangat menyakitkan. tapi lebih menyakitkan ketika kita tau bahwa sesuatu yang hilang itu akibat dari kecerobohan dan kebodohan diri sendiri. saya menangis karena itu.

      air mata adalah bagian dari semua manusia normal. bukan monopoli kaum lemah (baik secara kodrat atau keadaan). seseorang yang kuat masih memiliki air mata. yang jadi pertanyaan, apakah ia mau menggunakannya?

      kenapa malu meneteskan air 'suci' itu? apakah mata yang basah karena air mata menunjukan ke-cengeng-an? terlebih jika yang bermata basah itu adalah seorang anak laki-laki berusia hampir 20 tahun.

      menangis sejajar dengan berteriak atau tertawa. berteriak tidak selalu berarti kemarahan. pun, tertawa, bukan hanya gambaran kebahagiaan atau sebuah kelucuan.

      lebih baik menangis dengan bangga daripada tertawa menutupi kesedihan. setidaknya kita telah jujur pada diri sendiri.

      saya bangga masih bisa menangis. saya senang masih punya air mata untuk diteteskan. saya tidak merasa lemah. saya tidak merasa cengeng. saya tidak malu!

praga

dalam dua hari ini,

sudah 2 kali saya menangis! 

 


Posted at 12:46 pm by praga
Make a comment  

Next Page